PucukHarap

PucukHarap

Rabu, 08 Januari 2014

Film Monsters University Subtitel Indonesia BRRIP

http://1.bp.blogspot.com/--Uyan0tJ_lk/UYq17Bcp69I/AAAAAAAAMHE/kLyLEgpOBLU/s1600/Monsters+University+-+International+Poster+1.jpg

Tanggal rilis
21 June 2013 (USA)
Negara USA
Bahasa
Inggris
Genre
Animasi | Petualangan | Komedi
Direktur Dan Scanlon
Penulis
Dan Scanlon (cerita), Daniel Gerson (cerita)
Pemain Billy Crystal, John Goodman, Steve Buscemi 







 Sinopsis :
    When it comes to Pixar Animation Studios, everyone comes with an unreasonable high expectation. Tidak salah. Semenjak memulai petualangan mereka dengan Toy Story (1995) dan kemudian menghadirkan film-film semacam Finding Nemo (2003), The Incredibles (2004), Ratatouille (2007), WALL-E (2008), Up (2009) hingga Toy Story 3 (2010) yang tidak hanya menjadi favorit banyak penonton namun juga mengubah cara pandang kebanyakan orang terhadap film animasi, Pixar Animation Studios telah menjadi artis standar tersendiri atas kualitas produksi sebuah film animasi.

     Tidak mengherankan jika ketika Pixar Animation Studios merilis film-film seperti Cars 2 (2011) dan bahkan Brave (2012) yang berkualitas menengah (baca: cukup menghibur namun jauh dari kesan istimewa), banyak penonton yang mulai meragukan konsistensi rumah produksi yang kini berada di bawah manajemen penuh Walt Disney Pictures tersebut dalam kembali menghadirkan film-film animasi yang berkelas.

       Not wrong… but quite silly. Sebagai sedikit pengingat: Pixar Animation Studios sama sekali belum pernah menghasilkan film-film yang berkualitas benar-benar buruk. Jika Cars (2006), Cars 2 ataupun Brave dirilis oleh rumah produksi animasi lainnya, tiga film animasi tersebut kemungkinan besar akan mendapatkan kredit lebih atas kekuatan penceritaannya.

     Anyway… Monsters University, yang merupakan prekuel dari Monsters, Inc. (2001), juga sepertinya akan mendapatkan reaksi yang sama dengan tiga film tersebut. Harus diakui, Monsters University hadir dengan kualitas penceritaan yang biasa saja – bahkan, jika dibandingkan dengan film pendahulunya, Monsters University terasa kehilangan begitu banyak sentuhan humanisnya.

     Tapi apakah hal tersebut membuat Monsters University menjadi sebuah presentasi yang buruk? Hardly. Mungkin terasa terlalu familiar, namun film arahan Dan Scanlon ini jelas masih memiliki banyak taji yang akan mampu membuat banyak penonton merasa jatuh cinta pada karakter Mike dan Sully – bahkan jika mereka belum pernah menyaksikan Monsters, Inc..

        Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Scanlon bersama Daniel Gerson dan Robert L. Baird, Monsters University membawa kembali penontonnya ke masa dimana Michael “Mike” Wazowski (Billy Crystal) baru saja memasuki masa perkuliahannya di Monsters University dalam memenuhi impiannya di masa kecil untuk menjadi seorang monster yang mampu memberikan rasa takut kepada anak-anak kecil.

    Permasalahan utamanya adalah… Mike sama sekali tidak memiliki kondisi fisik yang menakutkan. Hasilnya, meskipun Mike dengan mudah menyerap berbagai ilmu mengenai tata cara menakuti seorang anak dengan baik, Mike tetap dipandang sebelah mata oleh dekannya, Dean Hardscrabble (Helen Mirren), serta kebanyakan rekan-rekan mahasiswa lainnya.

       Berbeda dengan Mike, James P. “Sully” Sullivan (John Goodman) terlahir dari klan monster yang telah terkenal kelegendarisannya dalam hal menghasilkan rasa takut. Bahkan tanpa mempelajari berbagai trik menakuti yang diberikan di Monsters University, Sully dapat dengan mudah menakuti setiap anak kecil yang ia jumpai dengan raungannya dengan tegas dan kuat.

       Dengan perbedaan tersebut diantara mereka, jelas dapat dimengerti mengapa Mike dan Sully awalnya begitu saling tidak menyukai satu sama lain. Namun, ketika Dean Hardscrabble kemudian memberikan mereka sebuah tantangan yang dapat mengancam posisi mereka di Monsters University, Mike dan Sully terpaksa harus menyingkirkan perbedaan mereka dan mulai saling bekerjasama untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan tersebut.

    Well… memang benar… Sama sekali tidak ada yang istimewa dalam jalan penceritaan Monsters University – yang pada dasarnya merupakan kisah perseteruan antara kelompok jocks dan nerds di bangku kuliah yang kemudian mendapatkan penyesuaian cerita untuk dihadirkan bagi para penonton muda.

     Konsep-konsep mengenai dunia monster yang pernah disajikan dalam Monsters, Inc. jelas tidak lagi menjadi kejutan cerdas ketika kembali dihadirkan dalam Monsters University. Dan jika Anda adalah salah satu penonton yang mengharapkan untuk mendapatkan sentuhan emosional yang memuncak – sehingga dapat membuat Anda menangis – ketika memilih untuk menyaksikan Monsters University, maka Anda kemungkinan besar akan kecewa dengan presentasi Dan Scanlon untuk film ini.

     Benar bahwa Monsters University adalah sebuah film tentang rasa persahabatan dan berbagai hal yang terjadi di dalamnya, namun Scanlon sepertinya lebih memilih untuk berfokus pada sisi bersenang-senang dari rasa persahabatan tersebut daripada menghadirkan sebuah usaha untuk membuat penontonnya menangis akibat rasa haru.

       Tapi, sekali lagi, Monsters University, bukanlah sebuah presentasi yang buruk dan jelas akan sulit untuk dibenci oleh penontonnya. Seperti halnya film-film hasil produksi Pixar Animation Studios, Monsters University masih dilengkapi dengan tampilan visual yang begitu memikat. Semenjak lama, Pixar Animation Studios memang telah berhasil mengaburkan (bahkan menghapus) batas antara sebuah film animasi dengan sebuah film live-action – realitas dan ilusi.

     Hal yang sama juga terjadi pada Monsters University. Meskipun penonton disajikan dengan karakter-karakter yang begitu berwarna dan jelas tidak akan pernah hadir dalam kehidupan nyata, adalah sangat mudah untuk terlupa bahwa presentasi yang sedang tersaji adalah sebuah film animasi akibat kemampuan Pixar Animation Studios dalam menghadirkan detil gambar yang memukau serta tata kamera yang begitu hidup dalam mengikuti setiap pergerakan karakternya.

     Kemampuan Scanlon bersama Daniel Gerson dan Robert L. Baird dalam menghadirkan dialog-dialog yang cukup cerdas serta dipenuhi deretan humor yang terasa segar dan menghibur juga layak diberikan kredit lebih. Dan yang terlebih utama, para pengisi suara Monsters University berhasil memberikan kehidupan yang begitu kuat bagi setiap karakter yang mereka sajikan.

      Billy Crystal dan John Goodman kembali memerankan karakter Mike dan Sully dan hadir dengan chemistry yang begitu terasa erat. Helen Mirren mampu tampil sinis sebagai Dean Hardscrabble. Begitu juga dengan Steve Buscemi yang mengisisuarakan karakter Randall “Randy” Boggs yang dalam Monsters University diberikan sedikit kisah latar belakang mengapa ia menjadi sosok yang antagonis nantinya dalam Monsters, Inc..

     Dan masih layaknya film-film persembahan Pixar Animation Studios lainnya, Monsters University juga dibuka dengan kehadiran sebuah film pendek yang berjudul The Blue Umbrella arahan Saschka Unseld. Berbeda dengan film-film pendek produksi Pixar Animation Studios sebelumnya, The Blue Umbrella menghadirkan teknik animasi yang diterapkan pada rekaman fotografi nyata.

      Sayangnya, meskipun merupakan sebuah keberhasilan teknis yang sangat menawan – serta ditemani dengan tata musik arahan Jon Brion yang begitu menghipnotis, The Blue Umbrella kurang mampu hadir dalam kualitas penceritaan yang istimewa. It’s nice but otherwise quite forgettable. Pada akhirnya, adalah sangat mudah untuk memberikan penilaian sesaat bagi Monsters University: Anda akan menganggapnya remeh karena tidak sesuai dengan standar tinggi film-film produksi Pixar Animation Studios sebelumnya yang telah Anda tetapkan sendiri atau Anda hanya cukup menikmatinya dan mengalir dengan segala kekonyolan yang dihadirkan Dan Scanlon dalam presentasi Monsters University.

      Tidak mudah untuk menyingkirkan ekspekstasi tinggi pada sebuah film karya Pixar Animation Studios, tapi ketika Anda berhasil melakukannya, Monsters University akan cukup mampu menghadirkan waktu-waktu yang sangat menyenangkan untuk setiap penontonnya.
 Monsters_University.jpg
Download
Jenis: AVI
Resolusi: 320 x 240
Ukuran: 151 mb
Durasi: 1 Jam - 43 Menit - 48 Detik
Link:
Server 1

Subtitel Indonesia

Sabtu, 28 Desember 2013

Film How To Train Your Dragon Subtitel Indonesia

 

Tanggal terbit
26 Maret 2010 (USA)
Negara USA
Bahasa
Inggris
Jenis
Animasi | Petualangan | Komedi
Direktur Dean DeBlois, Chris Sanders
Penulis
William Davies (screenplay), Dean DeBlois (screenplay)
Pemain Jay Baruchel, Gerard Butler, Christopher Mintz-Plasse | dan lain-lain.







Sinopsis :

     Harus diakui, sebagai sebuah perusahaan yang pada awalnya menjadi saingan terberat Pixar dalam merebut pasar pecinta film-film animasi, DreamWorks Animation terasa sangat ketinggalan akhir-akhir ini. Memang, dari segi pendapatan, DreamWorks seringkali mengungguli hasil perolehan komersial film-film rilisan Pixar. Namun dari segi kualitas yang diberikan? Hanya seri pertama dan kedua dari Shrek yang mampu memberikannya.

     DreamWorks Animation memang sepertinya tidak mau terlalu memusingkan soal kualitas dan berbagai penghargaan yang akan diraih oleh produknya. Mereka sepertinya lebih menyukai untuk memproduksi berbagai film animasi komersial yang murni untuk dinikmati sebagai sebuah hiburan.

     Tapi tetap saja, jika dilihat dari pendapatan yang diperoleh dua film terakhir mereka, Monsters vs Aliens dan Madagascar 2: Escape to Africa, DreamWorks Animation sudah sepatutnya untuk mulai merasa khawatir. Di tahun 2010 sendiri, DreamWorks Animation telah menyiapkan 3 amunisi film untuk dihadirkan kepada para penikmat film dunia.

     Yang pertama adalah film yang diadaptasi dari sebuah buku cerita anak-anak populer karya Cressida Cowell, How to Train Your Dragon. Berbeda dengan film-film animasi produksi DreamWorks Animation sebelumnya, film ini tidak mengedepankan jajaran suara pemeran papan atas di dalamnya, namun mengutamakan teknologi 3D yang memang sepertinya sedang dimanfaatkan secara habis-habisan oleh Hollywood saat ini.

     Berlatar belakang tempat di Kepulauan Berk, sebuah tempat dimana para Viking hidup dan senantiasa melawan para naga yang acapkali mencuri ternak mereka. Karena itu pulalah, setiap anak remaja di kepulauan tersebut diberi pelatihan dan pengetahuan mengenai naga, agar di kemudian hari mereka dapat menggantikan posisi generasi terdahulu mereka untuk mempertahankan ternak mereka dari serangan para naga.

     Itu tak terkecuali juga dialami oleh Hiccup (Jay Baruchel), anak dari ketua suku Viking di Kepulauan Berk, Stoick the Vast (Gerard Butler), yang dapat dikatakan sedikit berbeda dari anak-anak Viking lainnya. Memang, Hiccup memiliki hasrat yang besar untuk memerangi para naga. Namun setiapkali ia mulai untuk menunjukkan ‘kemampuannya’, disitu pula berbagai rentetan permasalahan mulai muncul.

     Akibatnya, ia mulai disingkirkan dari lingkungannya, termasuk oleh sang ayah yang mulai memandang aneh pada anaknya. Tentu saja hal tersebut tidak lantas menghentikan langkah Hiccup. Secara tak sengaja, ia berhasil melumpuhkan seekor naga dari kelas yang paling disegani dan ditakuti oleh sukunya, Night Fury.

     Sesuai dengan kebiasaannya sukunya, Hiccup pun berniat untuk membunuh naga tersebut dan membawa jantungnya kepada sang ayah untuk membuktikan keberaniannya. Namun, ternyata Hiccup tak memiliki keberanian untuk melakukannya. Ia bahkan melepaskan ikatan naga tersebut dan membiarkannya pergi. Ternyata, disitu pulalah hubungan antara Hiccup dan sang naga — yang nantinya ia namakan Toothless — mulai tumbuh.

     Merasa bersalah karena tindakannyalah yang menyebabkan sang naga tidak dapat kembali terbang, Hiccup akhirnya datang setiap hari ke tempat Toothless berada dan merawatnya. Lewat persahabatan yang aneh inilah, Hiccup akhirnya ditunjukkan oleh Toothless bahwa bukan kemauan para sang nagalah maka mereka harus mencuri ternak para manusia. Karenanya, Hiccup bertekad untuk menunjukkan pada sang ayah serta seluruh kaum Viking bahwa para naga sebenarnya butuh bantuan mereka, dan bukan untuk diperangi.

     Walau berjalan kurang meyakinkan di awal filmnya, namun How to Train Your Dragon berhasil secara perlahan-lahan mengumpulkan tenaganya dan melaju dengan pasti untuk menarik perhatian setiap penontonnya. Berbeda dengan film-film animasi karya DreamWorks Animation lainnya yang seringkali terasa sebagai sebuah film komedi penghibur yang diselimuti dengan kisah drama, How to Train Your Dragon tampil meyakinkan sebagai sebuah kisah drama yang diselingi dengan banyak adegan penghibur. Dan untungnya, hal tersebut sangat berhasil untuk meningkatkan kualitas film ini.

     Sukses di naskah cerita, ternyata juga diimbangi dengan kesuksesan film ini dalam memberikan tata visual yang mengagumkan. Dengan memanfaatkan teknologi 3D, berbagai adegan di film ini menjadi sangat terasa dipenuhi oleh berbagai ketegangan dan keseruan tersendiri yang akan mampu mengundang decak kagum dari para penontonnya. Selain efek 3D, arahan musik latar yang disusun oleh John Powell juga memberikan kontribusi yang tidak dapat disangkal menambah ketegangan dan ritme yang telah dibantu oleh teknologi 3D tadi.

     Berbicara pemeran, How to Train Your Dragon diisi oleh nama-nama yang sebenarnya telah dikenal, namun tidak begitu sebesar nama-nama pengisi suara film-film animasi karya DreamWorks Animation sebelumnya. Terdapat nama pendatang baru Jay Baruchel (yang memberikan hasil yang cukup memuaskan sebagai Hiccup), Gerard Butler (How to Train Your Dragon akan menjadi film terbaiknya setelah 300), America Ferrera, Craig Ferguson dan ditambah suara komikal dari Jonah Hill dan Christopher Mintz-Plasse.

     Sejujurnya, adalah sangat jarang untuk dapat merasakan kepuasan setelah menonton film-film animasi karya DreamWorks Animation akhir-akhir ini. Ada saja elemen yang terasa berlebihan atau terasa kurang di film mereka. Namun lain halnya dengan How to Train Your Dragon. Film ini mampu secara sempurna memadukan jalan cerita yang menarik dan diisi karakter-karakter yang sangat loveable dengan teknologi visual 3D yang mampu begitu menghidupkan film ini secara keseluruhan. Ditambah dengan paduan pas dari musik latar yang begitu mengisi di tiap adegan, tidak diragukan lagi bahwa How to Train Your Dragon adalah film terbaik yang pernah dirilis oleh DreamWorks Animation.

how-to-train-your-dragon.jpg
Download :

Sumber : http://www.ryemovies.com/how-to-train-your-dragon-subtitle-indone.xhtml
http://www.narudemi.net/2013/08/movie-how-to-train-your-dragon-subtile.html

Film Despicable Me Subtitel Indonesia

despicable-me-poster.jpg 

Tanggal terbit : 2010
Jenis : Animasi | Petualangan | Komedi
Pemain bintang: Steve Carell, Jason Segel and Russell Brand
Direktur : Pierre Coffin, Chris Renaud
Penulis: Cinco Paul (screenplay), Ken Daurio

Sinopsis : 
    Despicable Me adalah sebuah film animasi komedi yang bercerita tentang seorang penjahat jenius yang menggunakan tiga anak perempuan dari panti asuhan untuk mensukseskan rencana kejahatannya.  Tetapi sang penjahat mendapati bahwa dirinya telah berubah karena cinta dari tiga anak perempuannya.

    Dalam suatu lingkungan yang tenang, dimana rumah-rumah terlihat rapih dan menarik dengan pagar putihnya serta halaman penuh dengan mawar, terdapat satu rumah hitam yang besar, dengan halaman yang gersang.  Tetangga yang misterius, dengan markas rahasia didalam tanah dan dikelilingi oleh para minion, Gru, seorang penjahat jenius berencana untuk melakukan kejahatan terbesar sepanjang abad, mencuri bulan!

    Sayangnya, untuk melaksanakan rencana tersebut, Gru membutuhkan dana yang tidak sedikit, dan ia berencana untuk mendapatkan dana dari bank untuk para kriminal besar. Sang pemilik bank mengajukan syarat bahwa Gru akan mendapatkan pinjaman apabila ia berhasil mencuri alat yang dapat mengecilkan segala sesuatu.

    Saat ia berhasil mencuri alat tersebut, ditengah perjalanan, saingannya Vector, berhasil merebut alat tersebut. Segala upaya telah dilakukan oleh Gru untuk merebutnya kembali, tetapi tidak berhasil.

    Sampai suatu saat ia menemukan fakta bahwa Vector sangat tergila-gila pada biskuit coklat yang dijual oleh Margo, Edith dan Agnes dari panti asuhan. Gru yang memutuskan untuk mendapatkan alat tersebut dengan cara apapun, mengadopsi mereka dan berencana menggunakan mereka.

    Tetapi dalam perjalanannya, Gru mendapatkan bahwa ia mulai menyayangi anak-anak tersebut. Apakah rencana Gru untuk mencuri bulan berhasil ? dan bagaimanakah hubungan Gru dengan Margo, Edith dan si mungil Agnes ?

Download :